Senin, 20 Juni 2016

Rumah

Saat ini, aku sedang membangun rumah, rumah kehidupan yang nantinya akan aku nikmati. Aku susun satu demi satu batu bata yang aku kumpulkan dengan susah payah. Tak berjalan lancar begitu saja. Banyak rintangan yang harus kutemui untuk mendapat sebuah batu bata, namun tetap kuhadapi demi rumahku yang sudah lama kuimpikan. Sudah tak terhitung lagi jumlahnya, keringat dan air mata yang keluar dariku dan orang-orang yang mendukungku. Sudah tak terhitung lagi...


Namun, sore itu tiba-tiba badai datang entah dari mana, rumahku yang belum setengah jadi tersapu olehnya. Hilang, hancur, tak berbekas.  Batu batu yang aku susun satu persatu, tak tampak lagi. Tinggal puing-puing yang sudah tak berbentuk lagi. Kaget, bingung sedih, semua bercampur jadi satu. Rumah yang baru aku bangun dengan penuh perjuangangan, lenyap seketika. Tak bisa kutahan air mata yang jatuh dari pelupuk mataku. "Bagaimana bisa Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanyaku dalam hati. Air mata terus menurus keluar membasahi seluruh pipiku. Rasanya ingin berteriak, menyalahkan keadaan itu. Menyalahkan apa yang telah terjadi padaku.

Bingung apa yang harus dilakukan. Aku tak bisa berpikir lagi. Kosong sudah isi kepalaku, tak tahu mau bagaimana. Merenung dalam kesedihan yang tidak berujung, sampai ayam mulai berkokok pertanda pagi akan segera datang. Saat aku menatap langit , tiba-tiba ada suara di dalam diri yang berbisik, "Hey bodoh! Apa yang kamu lakukan?". Aku pun menjawabnya, "tentu saja bersedih, aku sedang sedih , semua usaha selama ini sia-sia". Kembali ada sautan, "Terus kalau sedih, menangis dan menyalahkan keadaan, bisa mengembalikan semuanya?" Sontak aku kaget, menyadari sesuatu hal yang dari tadi tak terpikirkan. ' benar juga bagaimana aku bisa sebodoh ini, menangisi terus yang sudah terjadi.. Memamngnya dengan bersedih tak berujung dan menyalahkan apa yang sudah terjadi bisa mengembalikan semuanya? Bodoh! Tentu saja tidak!' Aku berpikir sejenak, merenungi apa yang saat ini kulakukan. Dalam hati dan pikirku aku merasa  benar-benar menjadi orang bodoh menyalahkan Tuhan yang Maha Penyayang. Mungkin ini ada rintangan atau teguran, mungkin aku telah melakukan kesalahan sehingga kejadian ini menimpaku. Pikiranku kembali berjalan, " Kenapa aku tidak segera bangkit dan mencari jalan keluar?" katanya. Ya benar, kenapa aku tidak mencoba untuk berdiri lagi dan kembali membangun rumahku yang sudah hancur itu, memulai lagi mengumpulkan batu bata dan menyusunnya kembali. Mulai ku gerakkan kakiku, mencoba berdiri lagi dan bertekad dalam hati untuk memulainya lagi, mengumpulkan batu bata dan menyusunnya menjadi rumah yang lebih kokoh dari yang sebelumnya. Aku pun mulai berlari diringi pagi yang bersinar memberikan kekuatan pada diri ini untuk kembali da selalu bersemangat. ~The End~